Senin, 07 November 2016

Makalah budaya perkawinan adat banjar

MAKALAH
BUDAYA PERKAWINAN YANG MASIH DI LESTARIKAN DI MASA ERA GLOBALISASI
Dosen: Reno Afrian, S.Sos,M.AP

                                                                                                                                   







Di Susun :
NAMA : Hidayatus Shalihin
NPM : 14.16.04146
LOKAL : 5 D Reguler

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI
( STIA )
AMUNTAI
2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT  Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya. Dan karena atas limpahan karunia-Nya itu pula maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Makalah ini disusun berdasarkan perkawinan yang masih dilakukan di masyarakat Desa Sungai Durian Kec.Banua Lawas Kab.Tabalong
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu bagi pihak pembaca dapat memakluminya,  semoga bagi para pembaca makalah ini dapat beguna dan bermanfaat untuk kita semua dan mendapat ridha dari Allah Swt.















Daftar Isi
KataPengantar.........................................................................................   2 Daftar Isi        3
BAB I .....................................................................................................   4
PENDAHULUAN.................................................................................   4
A.    Latar Belakang ...........................................................................   4
B.     Rumusan Masalah ......................................................................   4
C.     Tujuan Penulisan.........................................................................   4

BAB II....................................................................................................   5
A.    Perkawinan orang banjar.............................................................   5
B.     Basasuluh....................................................................................   5
C.     Badatang.....................................................................................   5
D.    Nikah...........................................................................................   6
E.     Batimung.....................................................................................   6
F.      Batamat Al Quran.......................................................................   6
G.    Acara duduk Aruh......................................................................   7
BAB III...................................................................................................   8
A.    Budaya saat ini di tengah era globalisasi.....................................   8
B.     Kesimpulan..................................................................................   9
C.     Saran-saran..................................................................................   9
Daftar Pustaka.........................................................................................   10


BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan.Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Disamping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.Ikatan kekerabatan mulai longgar dibanding dengan masa yang lalu, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan.Emosi keagamaan masih jelas nampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan.

B.       RUMUSAN MASALAH
a.       Apa itu Basasuluh?
b.      Bagaimana cara malamar biniannya?
c.       Bagaimana proses batimung?
d.      Apa itu duduk aruh?


C.       TUJUAN
             Tujuan penulisan makalah ini adalah agar kita bisa mempelajari / mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang menjadi tradisi masyarakat Banjar dari adat badatang (melamar) sampai pasangan tersebut mempunyai anak pertama.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    PERKAWINAN ORANG BANJAR
Secara kronologis, maka peristiwa perkawinan menurut adat suku Banjar dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      BASASULUH
Bilamana seseorang telah sampai saat ingin kawin lazimnya oleh keluarganya yang terdekat diadakanlah apa yang yang dinamakan “Basasuluh”. Yakni ingin mendapatkan keterangan tentang calon istri yang diinginkan setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga yang bersangkutan.
Beberapa hal yang ingin diketahui diantaranya:
a.       Tentang agamanya
b.      Tentang keturunannya
            c.       Tentang kemampuan rumah tangganya
d.      Tentang kepribadiannya
Dari empat hal tersebut di atas yang menjadi titik tumpu perhatian itu adalah pada dua hal yaitu agama dan keturunannya. Sebaliknya, bagi keluarga calon istri di samping hal di atas, akan diperhatikan pula apakah lapangan pekerjaan calon suaminya tersebut. Hal itu sangat penting karena akan turut menentukan nilai rumah tangga mereka kelak.

2.      BADATANG
Pihak keluarga pria pada saatnya yang diberitahukan sebelumnya, datang dengan beberapa orang ke rumah calon istri yang disebut dengan istilah “badatang”. Kedatangan ini diterima antara kedua keluarga calon suami istri itu secara traditional biasanya lahirlah dialog yang mempunyai versi prosa liris bahasa daerah Banjar yang umumnya disebut Baturai Pantun, yakni berbalas pant
Adat orang banjar tidak mengenal istilah Batunangan atau Bapacaran. Istilah ‘Balarangan’ tidak sama dengan istilah ‘Batunangan’, karena belarangan adalah suatu perencanaan ancer – ancer para pihak orang tua masing – masing, ketika kedua anak masih remaja.
Menurut adat seorang gadis yang akan kawin, maka untuk selama 40 hari sebelumnya dia tidak diperkenankan keluar rumah.
Selama itu dia harus membersihkan diri, berlangsir mempercantik dirinya, yang disebut dengan istilah ‘bekasai’, sekaligus dia diberi beberapa nasehat.

3.      NIKAH
Yang dimaksud dengan nikah adalah upacara keagamaan untuk melangsungkan ijab kabul di hadapan seorang penghulu dan saksi – saksi. Acara ini sering kali juga disebut ‘Meantar Jujuran’.

4.      BATIMUNG
Bagi pengantin pria maupun wanita terutama menjelang hari persandingan dua atau tiga hari sebelumnya, maka pada malam harinya harus melaksanakan mandi uap yang dikenal dengan istilah ‘Batimung’. Diharapkan dengan batimung ini akan menguras habis keringat tubuh, menyehatkan dan mengharumkan tubuh pengantin tersebut. Dengan demikian pada saat persandingan nanti kedua pengantin tidak akan berkeringat lagi.
      5.   BATAMAT AL-QUR’AN
Baik pengantin pria maupun pengantin wanita pada waktu menjelang acara persandingan biasanya melangsungkan acara betamat Qur’an yakni membaca kitab suci Al-Qur’an sebanyak 22 surah yang dimulai dari surah ke 93 (Ad-Dhuha) sampai dengan surah ke 114 (An-Nas) ditambah dengan beberapa ayat pada surah Al-Baqarah, ditutup dengan do’a khatam Qur’an, pembaca do’a biasanya guru mengaji pengantin tersebut.
Suatu kebiasaan yang unik dan lucu, ialah apabila pengantin telah sampai pada bacaan surah ke 105 (Al-Fiil) biasanya ramailah anak-anak dan remaja di sekitar itu memperebutkan telur masak sekaligus memakannya. Sebab menurut cerita konon yang mendapatkan telur masak itu akan menjadi terang hatinya, cepat menjadi pandai membaca kitab suci Al-Qur’an.

6. Acara Duduk aruh
            Yaitu tempat orang melakukan pembuatan masakan gasan acara perkawinannya,seluruh masyarakat basamaan manggawinya ada nang manyumbalih itik atau ayam, ada nang mancabuti bulu itik dan ayam, dan semua masyarakat mambari itik atau ayam untuk keluarga si mempelay,agar keluarga mempelay marasa terkurangi beban dalam masalah pembuatan lauknya dan keluarga mempelay kada banyak lagi gasan menambahi pembuatan lauknya.
            Pada duduk aruh ini sangatlah ramai dari anak-anak sampai orang tua ada di acara orang duduk aruh ini dan menjadi Silatur-rahmi bagi masyarakat nang lawas kada tatamu menjadi tatamu pada waktu duduk aruh ini. Dan masih di lakukan sampai sekarang ini.


















BAB III
PENUTUP

A.    BUDAYA SAAT INI DI TENGAH ERA GLOBALISASI
Dampak yang paling mengkhawatirkan dari arus globalisasi adalah terhadap agama dan tatanan nilai lainnya dalam masyarakat Banjar. Kehidupan agama pada zaman ini mau tidak mau memang akan terus ditantang. Dunia di luar dia adalah dunia persaingan. Karena itu, orang mencari perlindungan pada agama dan kedamaian pada agama.
Tetapi ironisnya, orang sering menjauhkan diri dari upacara-upacara yang dirasakan membosankan dan terlalu lama. Dalam sikap beragama orang ingin cenderung serba cepat, efisien, dan efektif, tetapi menyentuh pribadi. Di tengah kencangnya arus globalisasi terdapat juga upaya untuk membentuk kelompok kecil dengan basis identitas primordial. Orang merasa lebih dekat pada rasa kesukuan, keagamaan, atau kebudayaan tertentu. Orang mengelompokkan diri berdasarkan kesamaan darah (kesukuan) dan sejarah. Semangat membesar-besarkan kebudayaan sendiri menguat dalam kelompok ini. Mereka merasa kebudayaannya superior, lebih baik dan lebih unggul, sementara kebudayaan bangsa lain diabaikan dan diremehkan. Tidak ada lagi penghargaan terhadap kelompok lain. Tidak ada solidaritas antar kelompok yang berbeda. Semangat tersebut, gilirannya, menyulut orang-orang melakukan kekerasan, berperang atas nama suku maupun agama.









A. Kesimpulan
Setiap masyarakat memiliki adat atau tradisi di daerah masing-masing. Tradisi tersebut berlangsung sejak kita lahir sampai kita meninggal.

B.  Saran-saran
Sebaiknya kita sebagai penerus generasi suku banjar yang memelihara akan agar tradisi kita akan terus ada dan tidak diklaim oleh Negara lain dan berkembang di era globalisasi ini.



















DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar