Administrasi Pembangunan
BAB I
Ruang
Lingkup Administrasi Pembangunan
Administrasi
pembangunan belum diakui ataupun belum merupakan suatu disiplin ilmu yang telah
berkembang. Saat ini perkembangan menuju kearah itu terlihat dalam berbagai
usaha para ahli dan penulis. Administrasi pembangunan berkembang berdasarkan
disiplin ilmu yang mendahuluinya, yaitu administrasi negara.
Administrasi
negara muncul akhir abad ke 19 yang dipelopori oleh penulis-penulis dan
praktisi-praktisi administrasi pemerintah di Amerika Serikat. Pelopor- pelopor
dari ilmu tersebut antara lain Woodrow Wilson, Frank J. Goodnow, Leonard D.
White.
Ada empat subfungsi
perumusan kebijakan yaitu:
1. Kebijakan
tergantung analisis yang baik atas keadaan-keadaan nyata yang ada
2. Perumusan
kebijakan juga harus meliputi usaha untuk memproyektir kenyataan-kenyataan sekarang
dalam keadaan-keadaan nanti/masa depan, dengan cara melakukan perkiraan dari
perkembangan yang mungkin terjadi dan dalam penyusunan berbagai alternatife
langkah kegiatan yang mungkin dilalui.
3. Agar
suatu program strategi dan taktik-taktik kegiatan berdasarkan seperti no 1 dan
2.
4. Rangkaian
terakhir adalah pengambilan keputusan, dengan kata lain, bagian ini merupakan
perencanaan.
Unsur-unsur
administrasi ialah, struktur organisasi, keuangan, kepegawaian dan
sarana-sarana lain. Unsur dinamik administrasi meliputi pimpinan, koordinasi,
pengawasan dan komunikasi.
Para
ahli administrasi negara memberikan perhatian terhadap dua hal, yaitu
administrasi bagi negara-negara yang sedang berkembang atau yang sedang
mengalami perubahan (dari masyarakat tradisionil agraris kearah masyarakat maju
dan mulai memperkembangkan industri). Yang kedua adalah perhatian kepada
masalah interrelasi antara kehidupan yang lain.
Administrasi
negara lebih berorientasi untuk mendukung usaha-usaha pembangunan Negara-negara
yang belum maju, yang berarti perhatian terhadap usaha perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan-pembangunan. Suatu perencanaan yang berorientasi kepada
pelaksanaannya akan lebih banyak mengarah dalam pelaksanaan pembangunan.
Administrasi
pembangunan berfungsi untuk mendukung proses perumusan
kebijaksanaan-kebijaksanaan dari program-program pembangunan, yang tercermin
dalam suatu rencana pembangunan atau suatu kerangka kebijaksanaan yang
konsisten (dalam proses administrasi dan politik). Administrasi pembangunan
juga mendukung tata pelaksanaan kebijakan secara efektif (instrumen =
administrasi pembangunan).
Perencanaan
serta fungsi pemerintah terhadap perkembangan masyarakat tergantung oleh
beberapa hal, diantaranya filsafah hidup masyarakat dan filsafah politik
masyarakat tersebut. Ada negara-negara yang membebaskan masyarakat dalam
perkembangannya, sehingga peran pemerintah tidak terlalu dominan. Namun ada
pula negara yang menginginkan pemerintah mengurus hampir segala sesuatu
kehidupan masyarakat bangsa tersebut, yang mendasari orientasi ini yaitu
filsafah politik tradisional. Peran serta fungsi pemerintah seringkali
tergantung dengan tingkat kemajuan suatu negara terutama dalam bidang ekonomis
materiil.
Peran
pemerintah dalam pembangunan berencana dapat dilihat dalam beberapa bentuk,
yaitu pemerintah sebagai penjaga keamanan dan ketertiban dalam perkembangan,
sering kali penarikan pajak tidak diabdikan untuk kepentingan masyarakat sehingga
pemerintah berperan dalam hal ini. Adapun istilah service state, diamana pemerintah berperan sebagai abdi sosial dari
keperluan-keperluan yang perlu diatur dalam masyarakat. Selain itu, pemerintah
juga memiliki peran entrepreneur atau
pendorong inisiatif usaha pembaharuan dan pembangunan masyarakat. Pemerintah
menjadi development agent atau unsur
pendorong pembaharuan/ pembangunan.
Campur
tangan pemerintah dalam proses pembangunan dilakukan dengan lima macam cara,
diantaranya:
1. operasi
(operation) langsung, yaitu
pemerintah menjalankan sendiri kegiatan pembangunan tertentu.
2. Pengendalian
langsung (direct control) penggunaan
perijinan, lisensi (untuk kredit, kegitan ekonomi lain), penjatahan dan
sebagainya.
3. Pengendalian
tidak langsung (indirect control)
dengan cara pemberian aturan dan syarat.
4. Pemengaruhan
langsung (direct influence) dengan
cara persuasi atau nasehat.
5. Pemengaruhan
tidak langsung (indirect influence)
dengan bentuk involvement.
Di
Indonesia peran serta fungsi pemerintah dalam pembangunan nasional, tercermin
dalam pembukuan Undang-undang dasar 1945 alenia ke-4 “… melindungi segenap
bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social…”
BAB II
Administrasi bagi Pembangunan
Nasional
Masyarakat
bangsa dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu masyarakat tradisional,
masyarakat peralihan, dan masyarakat maju. Masyarakat di negara berkembang
merupakan masyarakat peralihan yang sedang berusaha mengembangkan dirinya dari
masyarakat tradisionil dengan ekonomi terbelakang, menuju kearah keadaan yang
dianggap lebih baik. Dalam hal ini masyarakat negara berkembang berada dalam
usaha perubahan sosial yang besar dan umumnya ditekankan pada pembangunan
ekonomi, karena pembangunan ekonomi dapat mendukung pencapaian tujuan, atau
mendorong perubahan serta pembaharuan dalam bidang kehidupan di masyarakat.
Hal
terpenting dalam proses pembangunan nasional adalah terselenggaranya
perubahan-perubahan dalam keadaan yang stabil dinamis. Untuk dapat mewujudkan
perubahan-perubahan tersebut diperlukan perencanaan. Perencanaan diperlukan untuk
mencapai tujuan-tujuan yang dikehendaki. Pembangunan nasional secara berencana
dapat dilihat dari tingkatan-tingkatan sebagai berikut:
1. Adanya
keinginan dari masyarakat yang didasari dari kebutuhan dasar masyarakat.
2. Perumusan
konsilisasi yang dilakukan dalam proses politik dan dituangkan dalam bentuk
keputusan-keputusan politik mengenai kehendak negara.
3. Perumusan
dasar-dasar hokum bagi pelaksanaan keputusan politik.
4. Perumusan
kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah dalam rangka mencapai tujuan
yang telah ditetapkan di dalam keputusan politik.
5. Penyusunan
program-program kerja (programming).
6. Implementasi,
dalam tingkat ini dimaksudkan untuk merealisir pencapaian tujuan yang telah
dirumuskan dalam kenijakan pemerintah berdasarkan keputusan politik.
7. Penilaian
dari pelaksanaan dan hasil-hasil yang telah dicapai.
Rencana
dan realisasi pelaksanaan rencana sering kali tidak sejalan, ini disebakan oleh
karena kemampuan sistem administrasi untuk pelaksanaan pembangunan berencana
yang efektif tidak mendapat perhatian. Serta seringkali usaha-usaha perbaikan
dan penyempurnaan administrasi dilakukan secara terpisah dari perencanaan
pembangunan. Perencanaan perlu dimensi-dimensi yang operasional, diantaranya berorientasi
untuk mencapai suatu tujuan, berorientasi kepada pelaksanaannya, pemilihan dari
berbagai alternatif mengenai tujuan-tujuan mana yang lebih diinginkan,
perspektif waktu, serta perencanaan harus merupakan suatu kegiatan yang rutin
dan terus menerus dari formulasi rencana dan pelaksanaannya. Ciri-ciri
perencanaan yang berorientasi pada pelaksanaannya dapat dilihat sebagai
berikut:
1. Penggunaan
rolling plants yaitu rancana-rencana yang setiap akhir periode pelaksanaan
disusun kembali tujuan, sasaran, dan program-programnya.
2. Penyusunan
dan pelaksanaan dari perencanaan operasionil tahunan.
3. Kaitan
antara perencanaan fisik dalam berbagai program dan proyek kegiatan dengan
perencanaan pembiayaan.
4. Perencanaan
pada unit kegiatan pemerintah yang dituangkan dalam program dan proyek
pembangunan.
5. Disain
perencanaan dan pelaksanaan perbaikan serta penyempurnaan administrasi negara,
sehingga dapat dijadikan prasarana pelaksanaan fungsi-fungsi pembangunan
pemerintah.
Salah
satu hambatan pokok terhadap kemampuan administrasi negara untuk mendukung
tugas-tugas baru dalam pelaksanaan pembangunan adalah karena seringkali
birokrsi pemerintah itu sendiri sebagai produk dari pada lingkungannya masih terbelakang. Perbaikan
dan penyempurnaan administrasi negara dapat dilakukan dengan dua pendekatan,
yaitu pendekatan usaha perbaikan dan penyempurnaan secara menyeluruh, dan
pendekatan secara sebagian-sebagian.
Dalam
pelaksanaan administrasi pembangunan pertimbangan ekonomis menjadi pertimbangan
yang amat penting. Dilihat dari kelemahan-kelemahan di bidang administrasi,
maka penyempurnaan administrasi negara untuk pelaksanaan pembangunan dibeberapa
wilayah terutama yang dihadapi oleh negara-negara berkembang seperti (Asia)
memiliki beberapa hal yang dihadapi diantaranya, sebagai berikut.
1. Perlu
dilakukan penyempurnaan di dalam penyusunan dan hubungan perlembagaan yang
berfungsi dalam bidang penyempurnaan administrasi negara.
2. Mengenai
pembinaan dan perencanaan kepegawaian, perubahan orientasi pada kemampuan untuk
melayani tugas-tugas rutin pembangunan.
3. Masalah
pembinaan dan penyempurnaan organisasi untuk pembangunan.
4. Penyempurnaan
di bidang manajemen termasuk prosedur-prosedur kerja.
5. Partisipasi
dan perhatian terhadap usaha penyempurnaan administrasi negara menuju
administrasi pembangunan.
Beberapa
hambatan dalam pelaksanaan administrasi secara ekonomis, dapat dikemukakan
beberapa hal:
1. Tiadanya
motif untung dan kemungkinan failit/bangkrut maka ada kecenderungan suatu
operasi pemerintah kurang efesien dibandingkan dengan suatu operasi swasta.
2. Masih
seringnya terdapat paternalisme dan spoil politik maupun pribadi di dalam
administrasi negara sehingga hal ini menyulitkan pembinaan efesien.
3. Adanya
gejala empire building yaitu suatu
usaha untuk memperluas birokrasi.
4. Berkembangnya
prosedur-prosedur yang berbelit-belit dan panjang karena hendak memenuhi
ketentuan berbagai badan administrasi secara tidak konsisten.
BAB III
Aspek-Aspek yang Saling
Mempengaruhi Administrasi Pembangunan
Pendekataan
administrasi pembangunan terkait erat, saling berhubungan dan saling
mempengaruhi keadaan dan proses perkembangan politik, ekonomi, social dan
lainnya. Hubungan itu saling bertentangan, baik hubungan netral maupun hubungan
yang saling mendukung. Administrasi pembangunan memberikan prasarana peralatan
dan penggerakan perkembangan di bidang kehidupan
masyarakat. Dan keadaan sebaliknya akan mempengaruhi tingkat kemampuan
pelaksanaan administrasi pembangunan, kecuali itu administrasi pembangunan juga
berarti kemampuan untuk menanggapi akibat-akibat dalam proses pengembangan dan
pembangunan. Administrasi pembangunan bergerak dalam perkembangan pembaharuan
yang cepat (change), yang sering kali
disebut “turbulence”.
Aspek
politik dalam perkembangan masyarakat atau negara erat hubungannya dengan
administrasi pembangunan. Berbagai aspek politik yang mempunyai pengaruh timbal
balik dengan administrasi pembangunan adalah filsafat hidup bangsa atau
filsafat politik kemasyarakatan dari suatu negara tertentu. Banyak pengarang
yang mengemukakan adanya hubungan antar pola kekuasaan yang berlaku di suatu negara
(regime types) yang tercermin dalam system politiknya, dengan pelaksanaan
tugas pembangunan negara. Esman membagi pola kekuasaan suatu negara dalam lima
tipe. Lima tipe yang dapat dibedakan dari cirri-ciri strukturil dan behavioral
yang samaitu adalah:
1. Oligarki
konservatif
2. Sistim
kepartaian yang kompetitif dan berorientasi kepentingan golongan
3. Sistim
partai massa yang dominan
4. Golongan
militer pembangunan yang otoriter
5. Kekuasaan
komunis totaliter
Pada
akhir-akhir timbul istilah baru yaitu teknokrasi.kekuasaan mereka ialah dalam
menggunakan teknologi sebagai disiplin untuk merumuskan hal-hal yang dapat
membina proses perkembangan yang lebih baik.
Aspek
lain yang erat kaitannya dengan administrasi pembangunan adalah keadaan politik
internasional dan politik luar negeri dengan negara yang bersangkutan. Sering
kali masalah hubungan luar negeri treutama dalam rangka perdagangan dan bantuan
mempunyai pengaruh utama, tidak saja dalam pengarahan politik luar negeri
tetapi juga dalam rangka penyempurnaan administrasinya.
Demikian
pula erat hubungannya antara aspek ekonomi dengan administrasi pembangunan
dalam proses pembangunan dan pembinaan bangsa. Pertumbuhan ekonomi adalah salah
satu bagian dari proses perkembangan social, politik, psikologi, kebudayaan,
administrasi dan ekonomi yang disebut pembangunan atau modernisasi.
Negara-negara baru berkembang pada umumnya memberikan prioritas yang tinggi
terhadap pembangunan ekonomi. Hal ini disebabkan karena perbedaan yang mencolok
dalam tingkat pertumbuhan antara negara adalah di bidang ekonomi materiil.
Berbagai
aspek sosial-budaya perlu mendapatkan perhatian dalam administrasi
pembangunan. Bahkan proses pembangunan
yang sebenarnya, haruslah merupakan perubahan sosial-budaya. Agar pembangunan
menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju sendiri (self sustaining process)
tergantung pada manusia dan struktur sosialnya. Jadi bukan hanya yang
dikonsepsikan sebagai usaha pemerintah belaka. Pembangunan tergantung dari
suatu “innerwill”, proses emansipasi
diri. Dan partisipasi kreatif dalam proses pembangunan menjadi mungkin karena
proses pendewasaan.
Ciri
masyarakat tradisional:
1. Terkait
pada tempat asal
2. Orientasi
“status”
3. Hubungan
pribadi (persoonlijk)
4. Loyalitas
primodial (agama, golongan, suku, keluarga)
5. Organisasi
keluarga, ikatan bersifat pribadi
6. Organisasi
kecil-kecil (frakturisasi)
7. Orientasi
terhadap waktu lampau
8. Bergantung
pada nasib
9. Hubungan
dengan alam: penyesuaian
10. Terhadap
kekuasaan: hierarkis
11. Kebudayaan
ekspresif
Ciri
masyarakat modern:
1. Mobilitas
2. Orientasi
hasil presuasi (achievement)
3. Hubungan
non pribadi, atas dasar masalah (zakelijk)
4. Loyalitas
perlingkup (averarching) negara,
kedinasan, profesi
5. Organisasi
non pribadi, ikatan kempentingan atau berorientasi tujuan
6. Organisasi
besar (organisasi revolution) (efficiency)
7. Orientasi
terhadap hari depan
8. Persoalan
yang ditimbulkan manusia dapat diatasi oleh manusia
9. Hubungan
dengan alam: mengatasi setidak-tidaknya mengatur
10. Coarchis
11. Kebudayaan
progresif
S.P.
Siagian mengklasifikasikan elite masyarakat kedalam beberapa golongan, yaitu:
1. Elite
politik,
2. Elite
administratif,
3. Elite
cendekiawan,
4. Elite
dunia usaha,
5. Elite
militer, dan
6. Elite
pembinaan pendapatan umum (informed observer)
Administrasi
pembangunan juga erat kaitannya dengan perkembangan ilmu, teknologi dan
perkembangan fisik. Administrasi pembangunan perlu memberikan sarana terkait
dengan pertumbuhan ilmu, teknologi, dan perkembangan fisik. Administrasi
pembanguna juga perlu memberikan perhatian terhadap pengembangan sumber-sumber
alam, pemanfaatan dan pemeliharaan lingkungan hidup. Pembangunan pada dasarnya
adalah usaha yang akan mempengaruhi dan merubah potensi sumber-sumber dan
keadaan lingkungan hidup.
Pembinaan
dan pengembangan aspek konstitusionil yang perlu diperhatikan dalam
administrasi pembangunan meliputi pembinaan institusi politik, ekonomi, sosial,
pendidikan dan lain-lain. Proses pembaharuan dan pembangunan juga merupaka
suatu proses pembinaan institusi-institusi
di dalam masyarakat yang baru dan bahkan mungkin penghapusan
institusi-institusi masyarakat yang lama. Pengembangan institusi ini merupakan
bagian dari proses pengembangan sosial yang lebih luas. Dalam proses itu bukan
saja akan terbina atau terhapusnya institusi, tetapi juga sering terjadi perubahan-perubahan
dari pada unsur-unsur ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar